Minggu, 24 Maret 2013

KUMPULAN PENGERTIAN MULTIKULTURALISME

No
Kutipan
Sumber
Komentar
1.
Multiculturalism can be defined as, “A philosophical position and movement that deems that
the gender, ethnic, racial, and cultural diversity of a pluralistic society should be reflected in all
of the institutionalized structures of educational institutions, including the staff, the norms, and
values, the curriculum, and the student body” (Banks & Banks, 1997: 435).

Multicultural Education
Banks, J. A., & McGee Banks, C. A. (Eds.). (1997).
Multicultural education: Issues and Perspectives (3rd ed).
Boston: Allyn and Bacon
Multikulturalisme dapat digambarkan sebagai, "Suatu posisi dan gerakan yang dianggap filosofis bahwa gender, kesukuan, rasial, dan keanekaragaman budaya dari
suatu masyarakat plural harus dicerminkan di semua lembaga pendidikan,
termasuk staf, norma-norma, nilai-nilai, kurikulum, dan siswa".

2.
Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Fay 1996, Jary dan Jary 1991, Watson 2000). 

Fay,  Brian, 1996, Contemporary Philosophy of Social Science: A Multicultural Approach. Oxford: Blackwell

Dari kutipan (Fay 1996, Jary dan Jary 1991, Watson 2000) dapat kita ketahui bahwa multikulturalisme merupakan acuan utama untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang multikultural.
3.
Pendidikan multikultural (multicultural education) sesungguhnya bukanlah pendidikan khas Indonesia. Pendidikan multikultural merupakan pendidikan khas Barat. Kanada, Amerika, Jerman, dan  Inggris adalah beberapa contoh negara yang mempraktikkan pendidikan multikultural. Ada beberapa nama dan istilah lain yang digunakan untuk menunjuk pendidikan multikultural. Beberapa istilah tersebut adalah: intercultural education, interetnic education, transcultural education, multietnic education, dan cross-cultural education (L.H. Ekstrand dalam Lawrence J. Saha, 1997: 345-6).

Ekstrand, L.H. “Multicultural Education,” dalam Saha, Lawrence J. (eds.). 1997. International Encyclopedia of the Sociology of Education. New York: Pergamon.

Dari kutipan (L.H. Ekstrand dalam Lawrence J. Saha, 1997: 345-6) dapat disimpulkan jika pendidikan multikultural bukan pendidikan khas Indonesia tetapi pendidikan khas Barat. Akan tetapi, dalam perkembangannya Indonesia menggunakan pendidikan multikultural karena adanya perbedaan di dalam masyarakat Indonesia. Pendidikan multikultural di Indonesia berbeda dengan yang lain, karena menggunakan acuan “Bhinneka Tunggal Ika” yang disesuaikan dengan bangsa Indonesia ini.

4.
Alasan lain yang melatarbelakangi adanya pendidikan multikultural adalah keberadaan masyarakat dengan individu-individu yang beragam latar belakang bahasa dan kebangsaan (nationality), suku (race or etnicity), agama (religion), gender, dan kelas sosial (social class). Keragaman latar belakang individu dalam masyarakat tersebut berimplikasi pada keragaman latar belakang peserta didik dalam suatu lembaga pendidikan (James A. Bank, 1989: 14).

Banks, James A. (ed.). 1989. Multicultural Education: Issues and Perspectives. Boston-London: Allyn and Bacon Press.
Dari kutipan (James A. Bank, 1989: 14) dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan yang melatarbelakangi adanya pendidikan multikultural di Indonesia adalah keragaman latar belakang siswa di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, yaitu keragaman pada paham keagamaan, afiliasi politik, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, jenis kelamin, dan asal daerahnya (perkotaan atau pedesaan).
5.
Alasan lain yang melatarbelakangi adanya pendidikan multikultural dalam konteks Indonesia, peserta didik di berbagai lembaga pendidikan diasumsikan juga terdiri dari peserta didik yang memiliki beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya. Asumsi ini dibangun berdasarkan pada data bahwa di Indonesia terdapat 250 kelompok suku, 250 lebih bahasa lokal (lingua francka), 13.000 pulau, dan 5 agama resmi (Leo Suryadinata, dkk., 2003: 30, 71, 104, dan 179).

Leo Suryadinata, dkk. 2003. Indonesia’s Population: Etnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Dari kutipan (Leo Suryadinata, dkk., 2003: 30, 71, 104, dan 179) dapat disimpulkan bahwa alasan lain yang melatarbelakangi pendidikan multikultural di Indonesia karena adanya semboyan bangsa Indonesia: “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan yang sangat adil dan demokratis ini memiliki pengertian bahwa Indonesia merupakan salah satu bangsa di dunia yang terdiri dari beragam suku dan ras, yang mempunyai budaya, bahasa, dan agama yang berbeda-beda tetapi dalam kesatuan Indonesia. Semboyan ini mengandung seni manajemen untuk mengatur keragaman Indonesia (the art of managing diversity), yang terdiri dari 250 kelompok suku, 250 lebih bahasa lokal (lingua francka), 13.000 pulau, 5 agama resmi, dan latar belakang kesukuan yang sangat beragam. Dengan semboyan ini diharapkan masing-masing individu dan kelompok yang berbeda suku, bahasa, budaya, dan agama dapat bersatu dan bekerjasama untuk membangun bangsanya secara lebih kuat.
6.
Sebagai sebuah ide, pendidikan multikultural dibahas dan diwacanakan pertama kali di Amerika dan negara-negara Eropa Barat pada tahun 1960-an oleh gerakan yang menuntut diperhatikannya hak-hak sipil (civil right movement). Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk mengurangi praktik driskriminasi di tempat-tempat publik, di rumah, di tempat-tempat kerja, dan di lembaga-lembaga pendidikan, yang dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Selama itu, di Amerika dan negara-negara Eropa Barat hanya dikenal adanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan kulit putih yang Kristen. Golongan-golongan lainnya yang ada dalam masyarakat-masyarakat tersebut dikelompokkan sebagai minoritas dengan pembatasan hak-hak mereka (Pardi Suparlan, 2002: 2-3).

Parsudi Suparlan. 2002. “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural,” dalam Makalah yang diseminarkan pada Simposium Internasional ke-3, Jurnal Antropologi Indonesia, Denpasar Bali, 16-21 Juli.

Dari kutipan (Pardi Suparlan, 2002: 2-3) dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan multikultural dibentuk pertama kali oleh gerakan civil right movement untuk mengurangi diskriminasi kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas di Amerika dan Eropa tahun 1960-an.
7.
Pendidikan multikultural diarahkan untuk mewujudkan kesadaran, toleransi, pemahaman, dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan kultural, dan juga perbedaan dan persamaan antar budaya dan kaitannya dengan pandangan dunia, konsep, nilai, keyakinan, dan sikap (Lawrence J. Saha, 1997: 348).

Ekstrand, L.H. “Multicultural Education,” dalam Saha, Lawrence J. (eds.). 1997. International Encyclopedia of the Sociology of Education. New York: Pergamon.

Menurut kutipan (Lawrence J. Saha, 1997: 348) dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural dapat dipahami sebagai proses atau strategi pendidikan yang melibatkan lebih dari satu budaya, yang ditunjukkan melalui kebangsaan, bahasa, etnik, atau kriteria rasial. Pendidikan multikultural dapat berlangsung dalam setting pendidikan formal atau informal, langsung atau tidak langsung. Dari hal ini dapat diwujudkan dengan kesadaran , toleransi,pemahaman, dan pengetahuan pertimbangan keragaman.
8.
No single moment of birth can be assigned to multicultural education. The links of the chain  (the historical events) are scattered across the United States (and throughout the world), as  were  those who  sought  the democratic  society  that Gay espouses. For  instance,  it  can be  argued  that  multicultural  education  was  born  when  enslaved  African  Americans  people  began  to educate  themselves about  their history  in Africa and  the United  States and how  their  role  and participation  in  these histories,  as well  as  their  racial  identity dictated  their  treatment in U. S. Society (Banks, 1994; Ladson-Billings, 1994).

Banks,  J. A.    (1995).   Multicultural education: Historical development, dimensions, and practice.  In  the Handbook of research on multicultural education, New York: Macmillan. Ladson-Billings, G.  (1995).  Toward a theory of culturally relevant pedagogy.  American Educational  Research Journal, 32(30, 465-492.  Lee, S. (1997). Asian American as model-minorities? A look at their academic performance. American Journal of Education, 103, 121-159.

Pendidikan multikultural tidak akan terbentuk jika tidak ada peristiwa yang melatarbelakanginya. Peristiwa sejarahnya tersebar di seluruh Amerika Serikat (dan di seluruh dunia), seperti mereka yang mencari masyarakat demokratis untuk mendukung Gay. Contohnya, pendidikan multikultural lahir ketika orang Afrika diperbudak oleh orang Amerika kemudian mereka mulai mendidik dirinya sendiri tentang sejarah di Afrika dan Amerika Serikat, bagaimana peran dan partisipasi mereka dalam sejarah, serta identitas rasial mereka didikte pengobatan di masyarakat Amerika Serikat.
9.
Pada awal tahun 1977, dokumen konsultatif, Pendidikan di Sekolah, mengungkapkan harus mengenali keragaman dalam masyarakat yang menyatakan bahwa "Negara kita adalah, multi-budaya satu multi-ras, dan kurikulum harus mencerminkan pemahaman yang simpatik dari berbagai budaya dan ras yang sekarang membuat masyarakat.”(Amma 1989 hal 4).

Amma (1989) Multi-Budaya dan Anti Hari Pendidikan rasis.

Dari kutipan (Amma 1989 hal 4), dapat disimpulkan bahwa bangsa Indonesia memiliki keragaman budaya, keragaman ras, dan kurikulum, sehingga diperlukan pemahaman masyarakat terhadap perbedaan-perbedaan ini.
10.
Movements of various historically oppressed groups. Many trace the history of multicultural education back to the social action of African Americans and other people of color who challenged discriminatory practices in public institutions during the civil rights struggles of the 1960s (Banks, 1989; Davidman & Davidman, 1997).

Banks, J. (1989). Multicultural education: Characteristics and goals.The historical roots of multicultural education lie in the civil rights Davidman, L., & Davidman, P. (1997). Teaching with a multicultural perspective: A practical guide. New York: Longman.
Akar sejarah pendidikan multikultural terletak pada sejarah gerakan hak-hak sipil berbagai kelompok yang tertindas. Banyak jejak sejarah pendidikan multikultural kembali ke aksi sosial Afrika Amerika dan dari orang lain yang memilki kulit berwarna menentang praktek diskriminasi di lembaga-lembaga publik selama memperjuangan hak-hak sipil tahun 1960 (Bank, 1989; Davidman & Davidman, 1997).
11.
Institutions of Higher Education are Models for Multicultural Societies In a country that champions equal rights and opportunities for all individuals to improve the conditions of living for all, educators’ major concerns at institutions of higher education should be to promote the academic, social, and political success of all students (Green, 1989).

Green, M.F. (1989). Minorities on campus: A handbook for enhancing diversity. Washington DC: American Council on Education.

Lembaga Pendidikan Tinggi adalah Model untuk Masyarakat Multikultural di negara yang memperjuangkan persamaan hak dan kesempatan bagi semua individu untuk meningkatkan kondisi kehidupan semua, kekhawatiran utama para pendidik di lembaga pendidikan tinggi adalah harus meningkatkan prestasi akademik, sosial, dan politik dari semua siswa (Green, 1989).
12.
Tujuan pendidikan multikultural dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam tujuan, yaitu: tujuan yang berkaitan dengan sikap, pengetahuan, dan pembelajaran (Lawrence J. Saha, 1997: 349).

Ekstrand, L.H. “Multicultural Education,” dalam Saha, Lawrence J. (eds.). 1997. International Encyclopedia of the Sociology of Education. New York: Pergamon.
Dari kutipan (Lawrence J. Saha, 1997: 349) dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan multikultural ada tiga, yaitu sikap, pengetahuan, dan pembelajaran. Maksudnya, tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan aspek sikap (attitudinal goals) adalah untuk mengembangkan kesadaran dan kepekaan kultural, toleransi kultural, penghargaan terhadap identitas kultural, sikap responsif terhadap budaya, keterampilan untuk menghindari dan meresolusi konflik. Tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan aspek pengetahuan (cognitive goals) adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang bahasa dan budaya orang lain, dan kemampuan untuk menganalisis dan menerjemahkan perilaku kultural, dan pengetahuan tentang kesadaran perspektif kultural. Sedangkan tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan pembelajaran (instructional goals) adalah untuk memperbaiki distorsi, stereotip, dan kesalahpahaman tentang kelompok etnik dalam buku teks dan media pembelajaran; memberikan berbagai strategi untuk mengarahkan perbedaan di depan orang, memberikan alat-alat konseptual untuk komunikasi antar budaya; mengembangkan keterampilan interpersonal; memberikan teknik-teknik evaluasi; membantu klarifikasi nilai; dan menjelaskan dinamika kultural.
13.
Most institutions of higher education have become models of the communities in which they are located, and as such have become pillars for academic excellence, models for multicultural competence in society, and models for an interdependent world, as well as models for equity and democratic values. Institutions of Higher Education Are Models for Academic Excellence The principles and tenets of multicultural education make it possible to promote excel-lence in performance of all students (Sleeter & Grant, 1999).
McGraw-Hill Inc. Sleeter, C.E., & Grant, C.A. (1999). Making choices for multicultural education: Five ap-proaches to race, class, and gender (3rd ed). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall
Sebagian besar institusi pendidikan tinggi telah menjadi model masyarakat di mana mereka
berada, dengan demikian telah menjadi pilar untuk keunggulan akademis, model multikultural kompetensi dalam masyarakat, dan model untuk sebuah dunia yang saling bergantung, serta sebagai model untuk ekuitas dan nilai-nilai demokrasi. Lembaga Pendidikan Tinggi adalah Model untuk Keunggulan Akademik Prinsip-prinsip pendidikan multikultural memungkinkan untuk mempromosikan keunggulan di kinerja semua siswa (Sleeter & Grant, 1999).
14.
At least we would not be made confused by the theory
of melting pot, salad bowl, and others. Actually, Indonesia pay good attention
to multi ethnic education which has been common platform in designing a type
of learning based on Bhineka Tunggal Ika (Azra, 2003:19).

Azra, Azyumardi. (2003). "Pendidikan Multikultural: Membangun Kembali Indonesia Yang
Bhineka Tunggal Ika "dalam Tsaqofah, Vol.I, No.2
Sebenarnya, Indonesia memberikan perhatian yang baik
untuk pendidikan multi etnis yang telah platform bersama dalam merancang sebuah tipe
pembelajaran berdasarkan Bhineka Tunggal Ika (Azra, 2003:19).

15.
Principally, multiculturalism is the final concept to
build the strength of a nation by respecting their civil rights, especially those
of minority groups. This attitude can improve their participation in building
a nation. Basically, they become big because of the greatness of the nation of
which they are proud (Rosyada, 2010:2).
Rosyada, D. (2010). “Pendidikan Multikultural Melalui Pendidikan Agama: Sebuah Gagasan
Konsepsional”.
Pada prinsipnya, multikulturalisme adalah konsep akhir untuk
membangun kekuatan bangsa dengan menghormati hak-hak sipil mereka, terutama yang
kelompok minoritas. Sikap ini dapat meningkatkan partisipasi mereka dalam membangun
bangsa. Pada dasarnya, mereka menjadi besar karena kebesaran bangsa
yang mereka bangga.

16.
Actually, there is significant difference between the multicultural and Bhineka Tunggal Ika education. In multicultural education, learners are encouraged to give mutual respect on the basis of their place of origin. While multicultural education as applied the United States or Australia belongs to critical multiculturalism, and that practiced in Indonesia with Bhineka Tunggal Ika approach a soft multiculturalism (Watson, 2004:20)
Watson, B. (2004). “Multiculturalism: Its Strength and Weaknesses” in  Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS), No.23, XIII [December].

Sebenarnya, ada perbedaan yang signifikan antara multikultural dan pendidikan Bhineka Tunggal Ika. Dalam pendidikan multikultural, peserta didik didorong untuk memberikan saling menghormati berdasarkan tempat asal mereka. Sementara pendidikan multikultural yang diterapkan Amerika Serikat atau Australia memiliki multikulturalisme kritis, yang dipraktekkan di Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika pendekatan multikulturalisme lunak (Watson, 2004:20).

17.
It is so surprising, that "immediately" Australian emerges and recognized world widely as one of the most multicultural country, not only by Muslim people, but also by most people of the world. Australia has been found and regarded as more culturally friendly. The recognition and appreciation of the Australian strong multiculturalism is becoming much more apparent, especially after the World Trade blast of 11 September.
Conference on "Muslim Students In Australia Universities", University of West Sydney, 3 September2007.
Hal ini begitu mengejutkan, bahwa "segera" muncul Australia dan diakui dunia secara luas sebagai salah satu negara yang paling multikultural, tidak hanya oleh orang Muslim, tetapi juga oleh kebanyakan orang di dunia. Australia telah ditemukan dan dianggap sebagai lebih ramah budaya. Pengakuan dan apresiasi terhadap multikulturalisme yang kuat Australia menjadi jauh lebih jelas, terutama setelah ledakan World Trade 11 September.

18.
Pentingnya pendidikan multikultural ini didasarkan pada lima pertimbangan: (1) incompatibility (ketidakmampuan hidup secara harmoni), (2) other languages acquisition  (tuntutan bahasa lain), (3) cultural pluralism (keragaman kebudayaan), (4) development of positive self-image (pengembangan citra diri yang positif), dan (5) equility of educational opportunity (kesetaraan memperoleh kesempatan pendidikan) . (Jose A. Cardinas (1975: 131).

Cardinas, Jose A.. 1975. Multicultural Education: A Generation of Advocacy. America: Simon & Schuster Custom Publishing.

Dari kutipan Jose A. Cardinas (1975: 131) dapat disimpulkan bahwa pentingnya pendidikan multikultural didasarkan pada ketidakmampuan hidup secara harmoni, tuntutan bahasa, keragaman kebudayaan, pengembangan citra diri yang positif,dan kesetaraan memperoleh kesempatan pendidikan.

19.
 “Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak”. (Musa Asy’arie)

Musa Asy’arie
Di sini terlihat jelas salah satu pentingnya pendidikan multikultural bagi bangsa Indonesia, yaitu untuk menjaga keutuhan bangsa, persatuan dan kesatuan tetap terjaga, dan yang pasti integritas bangsa semakin kuat.
20.
‘we are all multiculturalists now’ (Glazer, Nathan, 1997)
Glazer, Nathan, 1997, We Are All Multiculturalists Now. Cambridge, Mass.:Harvard University Press.

Dia menyatakan apa yang sebenarnya terjadi pada masa sekarang ini di Amerika Serikat, dan gejala tersebut adalah produk dari serangkaian proses-proses pendidikan multikulturalisme yang dilakukan sejak tahun 1970an.
  21.
Pentingnya pendidikan multikultural dilatarbelakangi oleh beberapa asumsi: (1) bahwa setiap budaya dapat berinteraksi dengan budaya lain yang berbeda, dan bahkan dapat saling memberikan kontribusi; (2) keragaman budaya dan interaksinya merupakan inti dari masyarakat Amerika dewasa ini; (3) keadilan sosial dan kesempatan yang setara bagi semua orang  merupakan hak bagi semua warga negara; (4) distribusi kekuasaan dapat dibagi secara sama kepada semua kelompok etnik; (5) sistem pendidikan memberikan fungsi kritis terhadap kebutuhan kerangka sikap dan nilai demi kelangsungan masyarakat demokratis;  serta (6) para guru dan para praktisi pendidikan dapat mengasumsikan sebuah peran kepemimpinan dalam mewujudkan lingkungan yang mendukung pendidikan multikultural. (Donna M. Gollnick (1983: 29))
Gollnick, Donna M. 1983. Multicultural Education in a Pluralistik Society. London: The CV Mosby Company.

Dari kutipan Donna M. Gollnick (1983: 29), dapat disimpulkan bahwa beberapa alasan yang melatarbelakangi pendidikan multikultural yaitu: pertama, tiap budaya dapat berinteraksi dengan budaya lain; kedua, keragaman budaya dan interaksinya merupakan inti dari masyarakat Amerika dewasa ini; ketiga, semua warga negara berhak memperoleh keadilan dan kesempatan sosial; keempat, tiap kelompok etnik memiliki konstribusi yang sama; kelima, pendidikan memberikan fungsi kritis terhadap kebutuhan masyarakat; keenam, para pendidik dapat mengasumsikan sebuah peran kepemimpinan dalam mewujudkan lingkungan yang mendukung pendidikan multikultural.
22.
Pendidikan multikultural dapat dilihat dari 3 (tiga) aspek: konsep, gerakan, dan proses (James A. Bank, 1989: 2-3)
Banks, James A. (ed.). 1989. Multicultural Education: Issues and Perspectives. Boston-London: Allyn and Bacon Press
Dari aspek konsepnya, pendidikan multikultural dipahami sebagai ide yang memandang semua siswa—tanpa memperhatikan gender dan kelas sosial mereka, etnik mereka, ras mereka, dan atau karakteristik-karakteristik kultural lainnya—memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di kelas. Dari aspek gerakannya, pendidikan multikultural didefinisikan sebagai usaha untuk mengubah sekolah-sekolah dan institusi-institusi pendidikan sehingga siswa dari semua kelas sosial, gender, ras, dan kelompok-kelompok kultural memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Perubahan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada kurikulum, tetapi juga aspek lain seperti metode, strategi, manajemen pembelajaran, dan lingkungan sekolah. Dari aspek prosesnya, pendidikan multikultural dapat dipahami sebagai proses untuk mencapai tujuan agar kesetaraan pendidikan dapat dicapai oleh semua siswa. Kesetaraan pendidikan, seperti kemerdekaan dan keadilan tidak mudah dicapai, karena itu proses ini harus berlangsung terus-menerus.

0 komentar:

Poskan Komentar